GEJOLAKNEWS - Ada pemandangan aneh di koridor kampus kita. Mahasiswa dengan IPK nyaris sempurna, piala lomba berderet di rak, namun seringkali mereka menyimpan gundah. Mereka adalah para bintang, tapi di dalam hati, sering merasa bodoh dan tidak layak.
Ini bukan fiksi, melainkan realitas bernama Imposter Syndrome. Sindrom ini menjangkiti banyak orang sukses, terutama mereka yang berprestasi tinggi. Mereka terus meragukan semua pencapaiannya.
| Gambar dari Pixabay |
Merasa bahwa semua keberhasilan hanya kebetulan semata. Atau jangan-jangan, mereka cuma beruntung, bukan karena punya kemampuan lebih. Selalu ada rasa takut akan terbongkar kedoknya.
"Apakah aku benar-benar pantas di sini?" gumam hati kecil mereka. Pertanyaan itu menggerogoti, membuat pencapaian sebesar apa pun terasa hampa. Sebuah ironi, karena data dan fakta jelas menunjukkan mereka luar biasa.
Tapi logika sering kalah dengan perasaan. Perasaan takut ketahuan "tidak sepintar itu" jauh lebih dominan. Padahal, seringkali mereka memang pintar, sangat pintar, bahkan di atas rata-rata.
Fenomena Si Jenius yang Merasa Bodoh
Bayangkan Budi, mahasiswa teknik elektro terbaik angkatannya. Setiap proyek diselesaikan sempurna, selalu jadi asisten dosen favorit. Semua teman dan dosen mengagumi prestasinya.
Namun, Budi pulang ke kos, menatap tembok kamarnya. Dia merasa semua itu hanya pura-pura, dia merasa hanya menipu semua orang. Esok lusa, pasti semua akan ketahuan kalau dia sebenarnya tak lebih dari anak rata-rata.
Itu adalah Imposter Syndrome dalam wujud nyatanya. Ini bukan tentang kekurangan kemampuan, melainkan kekurangan kepercayaan diri pada kemampuan yang jelas-jelas ada. Sebuah konflik batin yang sangat melelahkan.
#### Lingkaran Setan Keterbandingan
Media sosial punya peran besar di sini. Kita melihat highlight hidup orang lain, tapi lupa bahwa itu hanya bagian kecil dari cerita. Mahasiswa berprestasi sering terjebak dalam lingkaran perbandingan yang tak sehat.
Mereka melihat teman di kampus lain meraih beasiswa bergengsi, atau teman satu jurusan memenangkan kompetisi internasional. Lalu tiba-tiba, semua pencapaian diri terasa kecil. "Ah, ini belum seberapa," pikir mereka.
Padahal, setiap orang punya jalurnya sendiri. Setiap pencapaian punya nilainya sendiri yang tak bisa dibandingkan begitu saja. Tapi imposter syndrome membuat mereka lupa akan keunikan itu.
Mereka mulai membandingkan bagian terburuk diri dengan bagian terbaik orang lain. Hasilnya? Tentu saja merasa kalah dan tidak cukup baik. Ini menjadi jebakan pikiran yang sulit dilepaskan.
Padahal jika dilihat dari luar, merekalah yang sering jadi standar. Orang lain yang justru membandingkan diri mereka dengan si Budi atau teman-teman Budi. Sebuah ironi yang tak disadari.
#### Tekanan Ekspektasi Pribadi
Orang berprestasi cenderung punya standar sangat tinggi untuk dirinya sendiri. Ini adalah pedang bermata dua yang tajam. Standar tinggi mendorong mereka maju, tapi juga bisa menghancurkan secara perlahan.
Mereka menuntut kesempurnaan dalam segala hal. Satu kesalahan kecil saja bisa dirasakan sebagai kegagalan besar. Sebuah indikasi bahwa mereka memang tidak sekompeten yang orang lain kira.
Tekanan ini sering datang dari internal, bukan dari faktor eksternal. Mereka ingin mempertahankan citra sempurna yang sudah mereka bangun di mata orang lain. Padahal, kesempurnaan itu adalah fiktif.
Semua orang pasti pernah salah. Semua orang pasti pernah gagal. Namun bagi penderita imposter syndrome, itu adalah bukti nyata bahwa mereka memang tidak pantas mendapatkan pujian.
Maka, mereka bekerja lebih keras lagi, demi menutupi "kekurangan" yang sebenarnya tidak ada. Demi membuktikan pada diri sendiri dan orang lain bahwa mereka pantas. Lingkaran tak berujung ini terus berputar.
Melawan Suara Hati yang Meragukan
Jadi, apa yang bisa dilakukan Budi, atau mahasiswa berprestasi lain seperti dia? Bisakah mereka keluar dari perangkap pikiran yang menyiksa ini? Tentu saja bisa, ada jalan keluarnya.
Langkah pertama adalah menyadari bahwa perasaan ini wajar. Ini bukan tanda kelemahan atau bahwa Anda memang seorang penipu ulung. Banyak orang hebat mengalaminya, bahkan Albert Einstein pernah merasakannya.
Menyadari itu sudah separuh perjuangan yang berat. Setelah itu, baru bisa mencari strategi untuk mengatasinya secara bertahap. Proses ini butuh waktu dan kesabaran ekstra.
#### Mengenali dan Mengakui Perasaan
Jangan melawan perasaan itu dengan keras atau menyangkalnya. Coba akui saja secara jujur. "Oke, aku merasa tidak pantas sekarang," kata hati. Lalu coba tanya pada diri sendiri, mengapa perasaan ini muncul?
Seringkali, perasaan ini muncul saat ada tantangan baru atau saat ada pujian yang tulus. Saat dipuji, mereka langsung merasa "ah, ini bukan aku yang sebenarnya, mereka salah." Saat tantangan, "aku pasti tidak bisa menyelesaikannya."
Mulai catat semua pencapaian-pencapaian kecil Anda. Bukan hanya yang besar dan spektakuler, tapi juga prosesnya. Keberhasilan dalam belajar materi sulit, membantu teman, atau bahkan sekadar bangun pagi dan menyelesaikan tugas.
Ini sangat membantu membangun bukti nyata dari kemampuan Anda. Bukti yang bisa Anda lihat kembali saat suara hati meragukan itu datang lagi. Bukti yang menegaskan bahwa Anda memang mampu.
Bicarakan perasaan Anda dengan orang yang dipercaya. Teman baik, mentor, atau bahkan konselor kampus yang profesional. Anda akan terkejut betapa banyak orang yang ternyata merasakan hal yang sama persis.
#### Fokus pada Proses, Bukan Hasil Akhir
Para penderita imposter syndrome seringkali terlalu fokus pada hasil akhir. Kalau hasilnya tidak sempurna, semua usaha dianggap sia-sia belaka. Padahal, proseslah yang sebenarnya membentuk kita menjadi pribadi yang lebih baik.
Nikmati setiap perjalanan belajar Anda. Hargai setiap langkah kecil, setiap kesulitan yang berhasil Anda lalui dengan perjuangan. Itu semua adalah bagian dari pertumbuhan yang berharga. Bukan hanya IPK atau piala di lemari.
Ubahlah pandangan Anda tentang kegagalan. Kegagalan bukanlah bukti Anda bodoh, tapi bukti Anda sedang belajar. Sebuah kesempatan emas untuk tumbuh dan berkembang lebih jauh lagi.
Jangan mencari kesempurnaan yang tak pernah ada, tapi carilah kemajuan. Setiap hari, coba menjadi sedikit lebih baik dari hari sebelumnya. Ini jauh lebih realistis dan berkelanjutan untuk kesehatan mental Anda.
Ingat, Anda berprestasi bukan karena kebetulan atau keberuntungan semata. Anda sudah bekerja keras, Anda sudah berusaha dengan gigih. Itulah yang layak diakui, bukan hanya oleh orang lain, tapi terutama oleh diri sendiri. Mahasiswa berprestasi adalah aset bangsa. Jangan biarkan imposter syndrome menggerogoti potensi besar mereka. Berhentilah merasa bodoh, mulailah merayakan diri dan semua pencapaianmu.
#ImposterSyndrome #Mahasiswa #Prestasi
