GEJOLAKNEWS - Hari ini, Selasa, 24 Februari 2026, umat Islam memasuki hari keenam Ramadhan 1447 Hijriah. Menjelang waktu berbuka puasa, banyak yang mencari informasi mengenai jadwal adzan Maghrib. Pengetahuan ini penting untuk menyegerakan berbuka puasa sesuai tuntunan Rasulullah SAW. Waktu Maghrib menandai berakhirnya puasa seharian. Ini adalah momen yang dinantikan setelah menahan lapar dan dahaga. Umat Islam dianjurkan untuk segera berbuka begitu adzan berkumandang.
Berbagai sumber menyajikan jadwal adzan Maghrib yang bervariasi tergantung lokasi. Di Kota Bandung, adzan Maghrib hari ini jatuh pada pukul 18.18 WIB. Sementara itu, di Jakarta, waktu Maghrib adalah pukul 18.13 WIB. Bagi masyarakat Yogyakarta, adzan Maghrib akan terdengar pada pukul 18.03 WIB. Di Solo Raya, waktu berbuka puasa adalah pukul 18.01 WIB. Sementara itu, di Cirebon, adzan Maghrib jatuh pada pukul 18.10 WIB. Di Luwu Utara, Sulawesi Selatan, waktu berbuka puasa adalah pukul 18.20 Wita.
| Gambar dari Pixabay |
Pentingnya Menjaga Shalat Tepat Waktu
Shalat adalah tiang agama. Menjaganya tepat waktu adalah kewajiban yang tak terpisahkan dari kehidupan seorang Muslim. Berbagai ayat Al-Qur'an menekankan pentingnya memelihara shalat. Rasulullah SAW sendiri pernah ditanya mengenai amal yang paling utama, dan jawabannya adalah shalat pada waktunya. Oleh karena itu, mengetahui jadwal shalat, termasuk Maghrib, menjadi sangat krusial.
Adab dan Doa Saat Berbuka Puasa
Berbuka puasa bukan sekadar menghentikan rasa lapar. Ini adalah momen penuh syukur dan kesempatan emas untuk memanjatkan doa. Saat berbuka, umat Islam dianjurkan membaca doa. Ada dua versi doa yang umum diamalkan di Indonesia, dari Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Doa versi Muhammadiyah berbunyi, "Dzahabaz zhama'u wabtallatil 'uruqu wa tsabatal ajru, insyaallah" yang artinya "Hilanglah rasa haus dan basahlah urat-urat (badan) dan Insya Allah mendapatkan pahala.".
Sedangkan doa versi NU adalah, "Allahumma laka shumtu wa bika amantu wa'ala rizqika afthartu. Birrahmatika yaa arhamar roohimin" yang berarti "Ya Allah, untukMu aku berpuasa, dan kepadaMu aku beriman, dan dengan rezekiMu aku berbuka. Dengan rahmatMu wahai yang Maha Pengasih dan Penyayang.". Keduanya sama-sama bersumber dari hadis shahih dan memiliki makna mendalam tentang rasa syukur.
Tingkatan Orang Berpuasa
Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya `Ulumuddin membagi tingkatan orang berpuasa menjadi tiga. Golongan pertama adalah puasa orang umum, yang hanya menahan diri dari makan, minum, dan hubungan suami istri. Tingkatan ini merupakan puasa kelas awam. Rasulullah SAW pernah mengingatkan, "Berapa banyak orang berpuasa tidak mendapatkan apa-apa kecuali lapar dan dahaga saja". Hal ini menekankan pentingnya puasa bukan hanya soal menahan fisik, tetapi juga hati dan perkataan.
Ada pula tingkatan puasa orang khusus, yang tidak hanya menahan dari hal-hal yang membatalkan, tetapi juga dari anggota tubuh dari perbuatan dosa. Dan tingkatan tertinggi adalah puasa orang yang paling khusus, yang tidak hanya menahan diri dari hal-hal di atas, tetapi juga menahan hati dari segala sesuatu yang dapat mengalihkan dari Allah SWT. Ini menunjukkan bahwa esensi puasa melampaui sekadar menahan lapar dan dahaga.
#JadwalAdzanMaghrib #WaktuBukaPuasa #Ramadhan1447H
