Wabah Menari Strasbourg 1518: Ketika Ratusan Orang Menari Hingga Mati Kelelahan

GEJOLAKNEWS - Strasbourg, Juli 1518. Sebuah pemandangan aneh terjadi di kota itu. Seorang wanita tiba-tiba menari.

Namanya Frau Troffea. Ia mulai bergerak tanpa henti. Gerakannya cepat, tanpa musik, tanpa istirahat.

Gambar Ilustrasi Artikel
Gambar dari Pixabay

Orang-orang bingung melihatnya. Ini bukan tarian biasa. Ini seperti sebuah kejang yang memaksanya bergerak.

Sehari berlalu. Dua hari pun lewat. Frau Troffea masih menari. Ia tidak makan, tidak tidur.

Kakinya lecet. Badannya lemas. Namun, dorongan itu terus ada. Ia terus melangkah, berputar, melompat.

Suaminya mencoba menghentikan. Para tetangga pun ikut membujuk. Semua sia-sia. Frau Troffea seperti kerasukan.

Tarian itu bukan kegembiraan. Itu adalah penderitaan yang terlihat. Sebuah siksaan yang tak terlukiskan.

Seminggu kemudian, lima belas orang bergabung dengannya. Mereka mulai menari, tak bisa berhenti. Gejala yang sama persis.

Kota Strasbourg mulai panik. Apa yang sedang terjadi? Apakah ini kutukan? Apakah ini wabah baru?

Mereka menari di jalanan. Di pasar. Di depan gereja. Mata mereka kosong, tubuh mereka tak terkendali.

Wabah menari ini sungguh mengerikan. Ini bukan tarian merayakan kemenangan. Ini adalah tarian menuju kematian.

Awal Mula Kegilaan di Strasbourg

Sang Penari Pertama: Frau Troffea

Kisah itu dimulai dengan Frau Troffea. Seorang wanita biasa, hidup di abad ke-16. Tiba-tiba dirasuki dorongan aneh.

Pada 14 Juli 1518, ia keluar rumah. Ia mulai menari di jalanan Strasbourg. Tak ada alasan, tak ada irama.

Ia menari berjam-jam. Tanpa henti. Hingga kakinya berdarah dan tubuhnya gemetar.

Warga kota hanya bisa memandang. Mereka ketakutan. Mereka belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.

Ia menari terus. Melawan rasa sakit. Melawan kelelahan ekstrem yang menyerang.

Ini bukan pertunjukan. Ini adalah sebuah misteri medis yang mengerikan. Sebuah fenomena yang tak terbayangkan.

Orang-orang berpikir itu adalah azab. Atau mungkin pengaruh roh jahat. Kota diselimuti ketakutan.

Menularnya Gerakan Aneh

Dalam beberapa hari, lebih banyak orang bergabung. Ada seorang pria, lalu dua orang. Tak lama, puluhan.

Mereka menari bersama Frau Troffea. Sebuah koreografi yang kacau. Sebuah simfoni keputusasaan.

Jumlah penari terus bertambah. Dari 15 menjadi 30. Lalu puluhan. Hingga mencapai ratusan orang.

Mereka bergerak tanpa sadar. Terus menari di jalanan. Sebuah pemandangan yang tak masuk akal.

Ini bukan hanya Strasbourg. Wilayah sekitarnya juga melaporkan kasus serupa. Namun, Strasbourg menjadi pusatnya.

Mereka tidak bisa berhenti. Meski otot-otot mereka menjerit. Meski jantung mereka berdebar kencang.

Ini seperti sihir. Sebuah kekuatan tak terlihat yang memaksa mereka untuk bergerak. Tanpa henti, hingga akhir.

Strasbourg dalam Genggaman Wabah Aneh

Upaya Pejabat dan Kematian Tragis

Pemerintah kota tidak tinggal diam. Mereka mencari solusi. Namun, pengetahuan medis kala itu sangat terbatas.

Awalnya, mereka percaya ini adalah "darah panas." Sebuah penyakit yang harus dikeluarkan melalui tarian.

Maka, mereka mengambil keputusan aneh. Mereka membangun panggung. Menyewa musisi dan penari profesional.

Idenya, biarkan para penari itu menari sampai lelah. Sampai penyakitnya keluar dari tubuh mereka.

Namun, keputusan itu malah memperburuk keadaan. Semakin banyak orang yang bergabung. Semakin banyak yang menari.

Tarian itu tak kunjung usai. Para penari mulai jatuh sakit. Kelelahan ekstrem, dehidrasi parah.

Jantung mereka tidak kuat. Beberapa menderita stroke. Banyak yang tewas di tengah tarian.

Estimasi korban tewas mencapai ratusan. Setiap hari, sekitar 15 orang meninggal. Terkapar di jalanan.

Mereka menari hingga mati. Sebuah cara meninggal yang paling mengerikan. Di hadapan banyak orang.

Pemerintah kota akhirnya menyadari kesalahannya. Mereka melarang musik. Mereka menghancurkan panggung.

Mereka membawa para penari ke kuil. Memohon pertolongan ilahi. Berharap doa bisa menghentikan wabah ini.

Perlahan, wabah itu mereda. Setelah berminggu-minggu teror. Kota Strasbourg bisa bernapas lega.

Teori dan Pikiran Modern

Apa sebenarnya yang terjadi di Strasbourg itu? Para sejarawan dan ilmuwan masih mencari jawaban.

Salah satu teori adalah ergotisme. Keracunan jamur ergot. Tumbuh di gandum hitam, bahan roti pokok.

Jamur ini bisa menyebabkan halusinasi. Kejang-kejang. Serta perasaan terbakar yang tak tertahankan.

Namun, gejala ergotisme biasanya juga meliputi gangren. Tidak ada laporan gangren pada penari Strasbourg.

Teori lain, dan yang paling diterima saat ini, adalah mass psychogenic illness (MPI). Histeria massa.

Ini adalah kondisi di mana sekelompok orang mengalami gejala fisik. Namun, tidak ada penyebab fisik yang jelas.

Penyebabnya seringkali adalah stres ekstrem. Strasbourg pada 1518 sedang dilanda kelaparan. Banyak penyakit lain.

Kemiskinan dan penderitaan merajalela. Ketakutan akan kiamat menghantui pikiran masyarakat.

Kondisi psikologis yang tertekan itu memicu reaksi ekstrem. Kecemasan kolektif meledak dalam bentuk tarian.

Mereka melihat orang lain menari. Pikiran mereka ikut terpengaruh. Dorongan itu menjadi tidak tertahankan.

Wabah menari ini menjadi pengingat. Betapa rapuhnya pikiran manusia. Betapa kuatnya efek psikologis massa.

Sejarah mencatatnya. Sebuah peristiwa aneh. Sebuah tarian mengerikan. Sebuah misteri yang masih menyelimuti.



#WabahMenariStrasbourg #SejarahEropa #HisteriaMassa

LihatTutupKomentar
Cancel