GEJOLAKNEWS -
Malam itu, Tono mencoba memejamkan mata. Namun, lagi-lagi suara itu datang. Sebuah dengungan rendah, konstan, seolah berasal dari inti bumi. Hanya dia yang mendengarnya di rumah itu.
| Gambar dari Pixabay |
Istrinya tidur pulas di sampingnya. Anak-anaknya nyenyak di kamar sebelah. Bagi Tono, suara itu adalah penyiksa. Ia seperti dengungan transformator listrik raksasa, atau mungkin suara mesin yang jauh sekali.
Ini bukan pertama kalinya. Setiap malam, terutama saat dini hari, dengungan itu makin jelas. Ia menggerogoti ketenangan tidur Tono. Mencuri istirahatnya, tanpa ampun.
Inilah "The Hum", sebuah fenomena misterius. Suara dengungan rendah yang hanya bisa didengar sebagian kecil populasi dunia. Mereka yang merasakannya seringkali frustrasi, merasa sendirian.
The Hum bukan sekadar suara biasa. Ia adalah sensasi akustik aneh. Sebuah dengungan kronis, tak jarang membuat penderitanya stres, bahkan depresi. Dokter dan ahli seringkali kebingungan.
Ribuan orang di berbagai belahan dunia mengakuinya. Dari desa kecil di Inggris hingga kota metropolitan di Amerika. Sebuah bisikan tak kasat mata yang mengusik ketenangan hidup mereka.
Bisikan Tak Kasat Mata: Apa dan Siapa yang Mendengar?
Derita di Balik Keheningan
Bayangkan, Anda duduk di ruangan sunyi. Anda sendirian, mencoba menikmati ketenangan. Tiba-tiba ada suara dengungan, menginvasi privasi pendengaran Anda.
Suara itu terus menerus, tak pernah berhenti. Ia seolah beresonansi di dalam kepala Anda. Anda mencoba mencari sumbernya, berkeliling rumah dengan bingung.
Anda mengecek lemari es, mungkin kipas angin yang bergetar. Anda memeriksa pendingin ruangan, atau mungkin pompa air tetangga. Tidak ada yang salah.
Bahkan Anda pergi ke luar rumah. Mencoba melarikan diri dari suara itu. Tapi begitu Anda masuk kembali, dengungan itu menyambut lagi. Sumbernya tidak pernah ditemukan.
Suara itu hanya ada di telinga Anda. Itulah derita para "hearer", sebutan bagi mereka yang mendengar The Hum. Mereka seringkali diyakini mengalami delusi. Dicap berhalusinasi.
Padahal, bagi mereka, suara itu sangat nyata. Lebih nyata dari apa pun. Ia bisa mengganggu tidur hingga parah, memicu insomnia kronis.
Ia bisa memicu sakit kepala berdenyut, migrain tak tertahankan. Bahkan menyebabkan depresi kronis. Mereka merasa terperangkap.
Sensasi The Hum bervariasi. Ada yang merasakan seperti dengungan mesin diesel jauh. Ada pula yang seperti suara kulkas raksasa. Frekuensinya sangat rendah.
Ini membuatnya sulit dideteksi oleh alat pendengar biasa. Kebanyakan manusia tidak dapat mendengar frekuensi ini. Hanya telinga-telinga "pilihan" yang mampu menangkapnya.
Biasanya, The Hum lebih sering terdengar di dalam ruangan. Terutama saat malam hari atau dini hari. Ketika lingkungan sekitar relatif lebih sepi.
Suara ini juga tidak terhalang oleh dinding beton. Ia menembus segalanya. Membuat penderitanya sulit mencari perlindungan. Bahkan di kamar tidur pribadi.
Para penderita The Hum sering merasa terisolasi. Keluarga dan teman sering tidak percaya. Mereka menganggap ini hanya kelelahan. Mereka merasa penderita mengada-ada.
Ini menambah beban psikologis mereka. Kualitas hidup mereka menurun drastis. Sebuah misteri yang merenggut ketenangan dan kebahagiaan. Tanpa ampun.
Dari Taos Hingga Telinga Anda
Fenomena The Hum bukan hal baru. Laporan pertamanya muncul pada tahun 1970-an. Di berbagai lokasi terpisah di dunia.
Salah satu yang paling terkenal adalah "Taos Hum" di New Mexico, Amerika Serikat. Penduduk kota Taos mengeluhkan dengungan misterius. Pemerintah setempat membentuk tim peneliti khusus.
Namun, tim peneliti gagal menemukan sumbernya. Mereka menggunakan peralatan canggih. Tidak ada jejak fisik suara itu. Taos Hum menjadi legenda lokal.
Kasus serupa juga terjadi di Bristol, Inggris. Dikenal sebagai "Bristol Hum" sejak tahun 1990-an. Ratusan orang melaporkan suara yang sama. Membuat kota itu gempar.
Penyelidikan besar-besaran dilakukan berbagai lembaga. Para ahli akustik dan insinyur dikerahkan. Hasilnya tetap sama, nihil. Tidak ada sumber akustik fisik terdeteksi.
Kemudian muncul "Kokomo Hum" di Indiana. Dan masih banyak lagi di berbagai negara. Polanya selalu mirip. Suara yang nyata bagi sebagian, tak terdengar bagi mayoritas.
Orang-orang yang mendengar The Hum seringkali memiliki karakteristik tertentu. Beberapa penelitian menunjukkan, mereka umumnya berusia di atas 50 tahun. Namun tidak selalu.
Wanita lebih sering melaporkan mendengarnya daripada pria. Tapi ini juga bukan aturan mutlak. The Hum tetap jadi anomali membingungkan.
Beberapa ahli menduga, ini adalah fenomena global yang meluas. Mungkin karena urbanisasi. Atau mungkin polusi suara frekuensi rendah yang tak terdeteksi.
Namun, tidak ada satu pun teori yang bisa menjelaskan secara komprehensif. The Hum terus menjadi teka-teki medis dan ilmiah. Sebuah suara yang menyiksa sebagian orang di seluruh dunia.
Menjelajahi Lorong Misteri: Hipotesis dan Tantangan
Antara Fisik dan Psikis
Para ilmuwan mengajukan berbagai teori. Ada yang bersifat fisik. Mencoba mencari sumber eksternal. Ada pula yang ke arah psikologis. Mencari penyebab internal.
Salah satu teori fisik adalah gelombang seismik mikro. Getaran bumi yang sangat rendah. Gelombang ini bisa merambat jauh melalui tanah. Mungkin terperangkap di beberapa lokasi.
Teori lain menyalahkan infrastruktur modern. Misalnya, jalur pipa gas bertekanan tinggi. Atau mungkin kabel listrik bawah tanah. Mereka bisa menghasilkan resonansi mekanis.
Aktivitas industri juga sering dituding. Pabrik-pabrik besar dengan mesin berat. Turbin angin raksasa. Atau bahkan lalu lintas padat di jalan raya. Semua bisa menghasilkan kebisingan frekuensi rendah.
Namun, teori-teori fisik ini punya kelemahan besar. Mereka tidak bisa menjelaskan mengapa hanya sebagian orang yang mendengarnya. Alat pengukur pun seringkali gagal merekamnya.
Di sisi lain, ada teori psikologis. The Hum mungkin semacam tinnitus. Dengungan internal di telinga. Tapi biasanya lebih ke frekuensi tinggi.
Penderita The Hum seringkali menolak ide tinnitus ini. Mereka bersikeras, suara itu berasal dari luar. Bukan dari dalam kepala mereka.
Stres dan kecemasan juga bisa memperburuk persepsi suara. Mungkin The Hum adalah amplifikasi dari kebisingan latar belakang. Pikiranlah yang memberi interpretasi khusus.
Ada juga hipotesis bahwa telinga manusia berbeda. Beberapa orang mungkin lebih sensitif terhadap frekuensi rendah. Mereka bisa menangkap "suara" yang tidak terdengar orang lain.
Namun, tetap sulit dibuktikan secara objektif. Mengapa sensitivitas ini hanya pada frekuensi rendah tertentu? Mengapa hanya muncul di beberapa daerah geografis? Ini semua masih jadi pertanyaan.
Pencarian Jawaban yang Tak Kunjung Usai
Pencarian jawaban terus berlanjut. Para peneliti menggunakan alat canggih terbaru. Mikrofon ultra-sensitif khusus. Sensor getaran mendeteksi resonansi kecil. Namun, The Hum tetap menghindar dari deteksi.
Komunitas online para "hearer" tumbuh pesat. Mereka berbagi pengalaman pribadi. Mencari solusi bersama. Mereka ingin suara itu berhenti.
Ada yang mencoba pindah rumah. Berharap bisa lepas dari dengungan. Ada yang menggunakan terapi suara. Atau perangkat masker kebisingan. Bahkan memakai penutup telinga khusus. Hasilnya seringkali mengecewakan.
Pemerintah dan lembaga penelitian masih enggan berinvestasi besar. The Hum dianggap masalah minoritas. Atau bahkan dianggap ilusi belaka.
Namun, bagi mereka yang merasakannya, ini bukan ilusi. Ini adalah kenyataan pahit. Sebuah suara yang menggerogoti kualitas hidup mereka. Tanpa henti.
Misteri The Hum tetap menjadi tantangan besar. Ia mengungkap keterbatasan pengetahuan kita. Tentang indra pendengaran. Tentang bagaimana otak dan telinga kita bekerja. Serta lingkungan sekitar kita.
Sampai kini, tidak ada jawaban definitif. Tidak ada obat mujarab. Hanya ada dengungan tak terdefinisi. Sebuah suara yang tak bisa dibantah oleh sebagian orang.
Dengungan yang terus berbisik, mengusik ketenangan pribadi. Menjadi pengingat akan misteri tak terpecahkan. Sebuah teka-teki yang menguji batas pemahaman manusia.
#TheHum #MisteriSuara #DengunganRendah
