Bukan Gerimis Yang Bertepi 2

Hari masih pagi dan di Pekuburan Kalam dekat Rumah Sakit Clarus, sunyi tanpa suara yang berarti. Senyap. Tempat manusia beristirahat setelah perjuangan hidupnya berakhir, entah berhasil maupun tidak. Tidak ada bunyian ataupun suasana yang ganjil yang mengusik tempat yang kudus itu.

Setelah kepergian George, ayah dan ibunya sangat shock dan terpukul. Rutinitas yang dijalani kedua orang tuanya hanya sekadar cara untuk mengurangi rasa sedih yang mereka alami, tidak seperti dahulu ketika putra mereka masih hidup.

Kini bagi mereka, sia-sialah bekerja. Hanya ada kesepian dan kerinduan akan putra tunggal mereka yang telah pergi. Mereka yakin bahwa mereka hanya berpisah secara fisik dengan anak kebanggaan mereka.

Perstiwa kecelakaan maut telah terjadi pada hari Sabtu (5/3/2012) di Jalan Flamboyan, Kota Manado. Akibat kecelakaan tersebut, George Budianto mahasiswa semester empat Fakultas Hukum di Universitas Sam Ratulangi meninggal dunia.

Penyebab utamanya, rem sepeda motor yang dikendarainya tidak berfungsi sehingga sepeda motor yang sementara melaju kencang menabrak truk yang sedang parkir di pinggir jalan. Luka parah dan darah yang terus mengalir membuat pemuda 20 tahun ini tak sadarkan diri. Sepeda motornya rusak berat. Korban diduga tewas sesaat setelah tiba di Rumah Sakit akibat terlambat mendapat penanganan medis.
Caesil segera melepaskan surat kabar yang ia baca dan memutuskan untuk kembali ke Manado guna mengetahui segalanya tentang apa yang baru saja ia baca. Dalam perjalanannya, ia berharap agar pemuda yang ada dalam surat kabar itu bukanlah George kekasihnya.

Keduanya adalah sepasang kekasih yang mengenyam pendidikan di tempat yang berbeda. Caesil juga mahasiswi semester dua, Fakultas Kedokteran Universitas Hassanudin. Keduanya saling mengasihi namun mereka berkesempatan bertemu pada waktu-waktu tertentu.
***
Ketika gadis itu hendak menuju rumah kekasihnya, ia bertemu dengan Monika, Ibu George. Sebagai tuan rumah, Monika mengajak Caesil untuk masuk ke dalam. Kedua kaki gadis itu terasa tak kuat menopang tubuhnya ketika melihat foto pujaan hatinya dihiasi dengan lilin yang bernyala.

"Bu, apa yang terjadi dengan George?" gadis itu bertanya.

"Ia mengalami kecelakaan dan tidak dapat diselamatkan," kata Monika dengan menatap foto anaknya yang sedang tersenyum.

Sekejap mata gadis itu berkata dan isak tangisnya memecah kesunyian rumah itu. Ternyata pemuda yang mengalami kecelakaan di dalam surat kabar itu adalah benar-benar George, pemuda pertama yang berlabuh di dermaga hatinya.

Monika mengira bahwa gadis itu adalah teman biasa putranya, namun ekspresi yang dimunculkan oleh gadis cantik itu sungguh lebih daripada sekadar teman-ketika mengetahui bahwa George telah pergi untuk selamanya. Hal itu membuat Monika teringat akan sebuah surat yang dituliskan George sehari sebelum ajal menjemputnya.

"Tunggu ya, Nak! Ibu ke belakang sebentar," kata Monika sembari menghilang dari hadapan gadis itu.

Beberapa menit kemudian, wanita dengan rambut yang mulai tampak uban itu muncul dengan sebuah amplop biru berukuran persegi panjang. Ia tidak langsung memberikan surat itu pada yang berhak menerima, tetapi ia lebih ingin mengenal siapa sebenarnya gadis yang ada di hadapannya itu.

"Non sahabatnya George?" tanya Monika dengan nada ingin tahu. Pertanyaan wanita itu semakin menambah rasa sedih pada gadis itu.

"Begini, Bu. Sejak mengenal George dua tahun yang lalu, hidup saya terasa lebih berarti. Banyak yang saya pelajari darinya, khususnya keindahan hidup ini bisa dijalani dengan kesetiaan. Saya tidak pernah mengenal pemuda sepertinya sebelumnya. Saya sangat mencintainya, Bu," jelas gadis ramping itu dengan irama kesedihan.

Setelah Caesil menjelaskan demikian, muncul beberapa pertanyaan dari wanita itu tentang hubungannya dengan almarhum putranya. Akhirnya, Monika menyadari bahwa perubahan sikap putranya dalam dua tahun terakhir menjadi lebih ramah dan semakin dewasa merupakan andil dari gadis yang mengenakan terusan putih itu.

Dengan demikian, Monika telah mengetahui siapa sebenarnya Caesilia Carista. Tiba-tiba Monika mengeluarkan amplop yang tadi diambilnya. "Dari George. Tadi ibu ambil di kamarnya dan ibu yakin George menulis surat ini untukmu," kata Monika sambil memberikan surat itu padanya. Caesil membuka dan mulai membacanya.

Bersambung ke Bukan Gerimis Yang Bertepi 3

Akhir November 2011
*) San Juan Community, SMASSTRA

Cerpen Martinus Limahekin
Sumber : Pos Kupang

Comments

Popular posts from this blog

Wanita-Wanita Tua Ini Dulunya Seksi dan Panas

Indonesia Asian "S" Diary

Koleksi Foto-Foto Cantik Megawati Prabowo