People Pleasing di Kantor: Tanda Kamu Dimanfaatkan Rekan Kerja Tanpa Sadar

GEJOLAKNEWS - Kantor itu hutan belantara. Banyak yang baik. Banyak juga yang lihai memanfaatkan kebaikan itu. Tanpa sadar, Anda mungkin jadi salah satu targetnya.

Anda selalu ingin menyenangkan semua orang. Ini niat yang mulia, bukan? Selalu berusaha membantu, memastikan semua orang senang. Tapi coba periksa lagi, apakah kebaikan itu justru jadi bumerang?

Gambar Ilustrasi Artikel
Gambar dari Pixabay

Namanya "people pleasing." Ini bukan sekadar baik hati. Ini kondisi di mana Anda merasa harus menyenangkan orang lain, bahkan jika itu merugikan diri sendiri. Di lingkungan kerja, ini sangat berbahaya.

Anda sering lembur mengerjakan tugas rekan kerja? Seringkali diminta membantu padahal Anda sendiri sedang dikejar deadline? Selalu jadi orang pertama yang mengulurkan tangan tanpa berpikir dua kali?

Waspadalah. Bisa jadi Anda sedang dimanfaatkan. Pelan-pelan, tanpa Anda sadari. Senyum manis Anda justru jadi celah bagi mereka untuk mengambil keuntungan.

Perasaan tidak enak hati seringkali jadi pemicunya. Anda takut dibilang tidak solider. Takut hubungan dengan rekan kerja jadi renggang. Akhirnya, Anda mengorbankan diri sendiri.

Jerat Kebaikan yang Menipu

Selalu Siap Membantu, Tak Pernah Menolak

Pernahkah Anda merasa tidak enak menolak permintaan? Meskipun Anda tahu itu akan memberatkan diri Anda sendiri. Rekan kerja meminta bantuan, Anda langsung mengiyakan tanpa pikir panjang. Padahal pekerjaan Anda sendiri menumpuk tinggi.

Anda berpikir, "Ah, tidak apa-apa. Ini kan demi kebaikan tim." Atau, "Nanti mereka marah kalau saya tolak, jadi lebih baik saya bantu saja." Rasa tidak enak itu perlahan jadi penjara yang mengikat.

Akhirnya, Anda pulang paling akhir setiap hari. Pekerjaan orang lain selesai dengan cepat berkat Anda, tapi pekerjaan Anda sendiri jadi keteteran. Ini bukan lagi soal kolaborasi yang sehat, tapi sudah mengarah ke eksploitasi yang terselubung.

Mereka tahu Anda tidak akan menolak. Mereka tahu Anda punya standar kerja yang tinggi dan akan mengerjakan dengan baik. Jadi, kenapa tidak mereka serahkan saja pada Anda? Ini pola pikir yang licik.

Hal ini bisa terjadi pada siapa saja. Terutama pada mereka yang punya empati tinggi. Mereka yang selalu ingin menciptakan harmoni di lingkungan kerja.

Prioritas Orang Lain di Atas Segalanya

Ada meeting penting untuk proyek Anda sendiri yang butuh persiapan matang? Tapi rekan kerja tiba-tiba minta tolong membantu presentasinya yang mendadak. Anda pun mengorbankan waktu persiapan krusial Anda. Mengutamakan kebutuhan mereka di atas segalanya.

Jadwal makan siang sudah tiba, perut sudah keroncongan. Tapi ada yang butuh bantuan mendadak untuk hal sepele. Anda rela menunda makan Anda. Atau bahkan tidak makan sama sekali demi menyelesaikan urusan orang lain.

Ini pola yang berulang dan sangat merusak. Anda selalu mendahulukan kebutuhan orang lain, seakan-akan kebutuhan Anda tidak penting. Kebutuhan Anda sendiri? Nanti saja, pikir Anda. Kapan "nanti" itu datang? Seringnya tidak pernah sama sekali.

Energi Anda terkuras habis untuk hal-hal yang bukan tanggung jawab utama Anda. Mental Anda pun cepat kelelahan dan burnout. Tapi siapa yang melihat pengorbanan ini? Rekan kerja justru melihat Anda sebagai "pahlawan" yang selalu ada dan bisa diandalkan. Sayangnya, mereka tidak peduli dengan biaya di baliknya.

Mereka cuma tahu pekerjaan mereka beres dan lancar. Sementara Anda, mungkin sedang menahan sakit kepala hebat atau perut kosong melilit. Senyum palsu itu menutupi segala penderitaan yang Anda rasakan.

Rekan kerja yang memanfaatkan itu sangat lihai. Mereka tahu tombol "kasihan" Anda. Mereka tahu Anda tidak ingin terlihat egois atau tidak kooperatif. Mereka mainkan perasaan Anda itu.

Awalnya mungkin hanya permintaan kecil dan sepele. "Bantu cetak dokumen ini dong." Lalu meningkat perlahan. "Bantu cek laporan saya ya, sepertinya ada yang salah." Lama-lama jadi, "Tolong handle sebagian tugas saya, saya sedang sibuk sekali."

Batasnya sangat tipis antara membantu dengan tulus dan dimanfaatkan secara tidak etis. Antara kebaikan yang tulus dan kebaikan yang terpaksa karena tekanan. Anda harus bisa membedakannya dengan cermat.

Sebab, jika pola ini dibiarkan terus-menerus, ini bisa merusak karir Anda secara signifikan. Anda terlalu sibuk mengerjakan pekerjaan orang lain. Pekerjaan inti Anda sendiri jadi terbengkalai dan tidak maksimal. Kesempatan promosi bisa lepas begitu saja.

Anda juga akan kehilangan respect dari orang lain. Bukan karena Anda tidak mau membantu, tapi karena Anda terlalu mudah dimanfaatkan dan tidak punya batasan. Orang cenderung lebih menghargai orang yang punya batasan jelas dan tegas.

Keluar dari Lingkaran Eksploitasi

Kenali Batasan Diri dan Beranikan Diri Berkata "Tidak"

Ini kunci utamanya untuk lepas dari jeratan people pleasing. Anda harus tahu kapasitas Anda yang sebenarnya. Berapa banyak pekerjaan yang bisa Anda tangani? Berapa banyak energi yang bisa Anda berikan tanpa mengorbankan diri? Jangan sampai minus.

Mengenali batasan diri berarti memahami kapan Anda harus istirahat. Kapan Anda harus fokus pada tugas-tugas inti Anda. Kapan Anda tidak bisa lagi membantu orang lain karena kapasitas sudah penuh.

Mengucapkan "tidak" itu memang sangat sulit. Apalagi bagi para "people pleaser" akut. Ada rasa bersalah yang menghantui, takut dicap tidak solider atau malas. Tapi pikirkan dampaknya yang lebih besar pada diri Anda sendiri.

Latihlah diri untuk berkata "tidak" dengan sopan namun tegas. Tidak perlu drama atau merasa bersalah yang berlebihan. Cukup katakan, "Maaf, saat ini saya sedang fokus pada prioritas utama saya." Atau, "Saya tidak bisa membantu sekarang, tapi mungkin saya bisa arahkan ke orang lain yang lebih kompeten."

Anda tidak perlu menjelaskan panjang lebar. Penjelasan yang terlalu detail justru menunjukkan keragu-raguan dan memberi celah. Jujur saja, tapi tetap tegas dan profesional. Mereka yang baik akan mengerti dan menghargai.

Awalnya mungkin ada rekan kerja yang sedikit kecewa atau menunjukkan wajah masam. Itu wajar saja dan Anda tidak perlu merasa bersalah. Tapi lama-lama mereka akan menghargai batasan Anda. Mereka akan tahu, Anda bukan orang yang bisa seenaknya dimintai tolong kapan saja.

Hargai Waktu dan Energi Anda Sendiri

Waktu dan energi itu sumber daya yang sangat terbatas. Anda tidak bisa memulihkannya begitu saja dengan cepat. Setiap kali Anda memberikannya untuk kepentingan orang lain, Anda mengambilnya dari diri sendiri.

Anggaplah waktu dan energi Anda adalah uang. Apakah Anda rela memberikan uang Anda begitu saja tanpa tujuan? Tentu tidak. Maka perlakukan waktu Anda seperti itu. Ini adalah aset berharga yang harus Anda kelola dengan bijak.

Fokuslah pada pekerjaan dan tanggung jawab utama Anda. Selesaikan tugas-tugas inti Anda terlebih dahulu dengan maksimal. Jika setelah itu ada waktu luang dan Anda mampu, baru tawarkan bantuan. Jangan pernah sebaliknya.

Prioritaskan kesehatan mental dan fisik Anda. Kantor bukan ajang kompetisi siapa yang paling berkorban atau paling lelah. Ini tempat bekerja, mencari nafkah, dan mengembangkan diri secara profesional.

Jangan merasa bersalah jika Anda tidak bisa membantu semua orang. Itu bukan tugas dan kewajiban utama Anda. Tugas utama Anda adalah melakukan pekerjaan Anda dengan baik, dan menjaga diri sendiri agar tetap produktif.

People pleasing itu seperti racun perlahan yang mematikan. Ia merusak dari dalam. Membuat Anda lelah secara fisik dan mental, frustasi, dan pada akhirnya tidak dihargai. Hentikan pola ini sekarang juga sebelum terlambat.

Jadilah pribadi yang baik dan membantu, bukan pribadi yang dimanfaatkan. Kebaikan harus punya batasan yang jelas. Batasan yang melindungi diri Anda dari kelelahan, burnout, dan eksploitasi.

Ingat, mereka yang benar-benar peduli pada Anda akan memahami keputusan Anda. Mereka tidak akan menuntut Anda untuk mengorbankan diri demi kepentingan mereka. Mereka justru akan menghargai batasan Anda dan mendukung Anda.

Jangan biarkan lingkungan kerja Anda berubah jadi arena memanfaatkan kebaikan orang lain. Anda berhak dihargai. Anda berhak punya batasan. Anda berhak atas waktu dan energi Anda sendiri yang berharga. Mulai sekarang, jaga itu baik-baik dengan tegas.



#PeoplePleasing #BatasanDiri #LingkunganKerja

LihatTutupKomentar
Cancel