GEJOLAKNEWS - Ada cerita yang menggetarkan. Tentang ambisi muda. Tentang janji-janji manis. Kemudian tentang kebohongan besar. Kisah itu adalah Theranos. Dan di baliknya, ada nama Elizabeth Holmes.
Dia muncul bak bintang. Gadis muda. Pandai bicara. Penuh visi. Dia berjanji mengubah dunia kesehatan. Membuat tes darah jadi sangat mudah. Cukup setetes darah saja.
| Gambar dari Pixabay |
Tidak perlu suntikan besar. Tidak perlu jarum menyakitkan. Cukup dari jari. Kemudian hasilnya langsung keluar. Cepat, murah, akurat. Siapa yang tidak tertarik?
Investor kakap terpukau. Mantan pejabat negara ikut mendukung. Media massa memuja. Elizabeth Holmes jadi ikon. Miliarder termuda yang membangun kerajaan teknologi.
Ambisi dan Janji Palsu
Awal Mula Sang Visioner
Holmes bukan orang sembarangan. Dia cerdas. Masuk Stanford University. Jurusan teknik kimia. Tapi dia tak menamatkannya. Drop out. Demi mewujudkan mimpinya.
Dia mendirikan perusahaan. Namanya Theranos. Tahun 2003. Usianya masih 19 tahun. Visi Theranos adalah revolusioner. Tes darah yang minim invasif.
Dia mengumpulkan dana. Sangat banyak. Dari investor-investor ternama. Termasuk keluarga Walton (Walmart) dan Rupert Murdoch (media mogul). Valuasinya mencapai miliaran dolar.
Para investor percaya. Percaya pada karisma Holmes. Percaya pada teknologinya. Mereka tak ragu menanamkan modal. Theranos tumbuh sangat pesat.
Papan direksinya? Penuh nama besar. Mantan menteri luar negeri AS. Mantan panglima militer. Orang-orang hebat di Washington. Mereka semua duduk di sana.
Elizabeth Holmes seolah tak bisa salah. Semua yang dia sentuh menjadi emas. Dia tampil di majalah. Diwawancara TV. Menjadi idola banyak anak muda.
Mesin Impian Tanpa Substansi
Produk andalan Theranos? Sebuah mesin. Dinamakan Edison. Ukurannya kecil. Diklaim mampu melakukan ratusan tes darah. Hanya dengan beberapa tetes darah.
Ini adalah terobosan besar. Jika benar. Bayangkan saja. Deteksi dini penyakit jadi sangat mudah. Biaya kesehatan terpangkas drastis. Sebuah revolusi.
Tapi kenyataannya jauh panggang dari api. Mesin Edison itu tidak berfungsi. Tidak seperti yang dijanjikan. Banyak tes yang tidak bisa dilakukan.
Bahkan, sebagian besar tes darah Theranos tidak menggunakan Edison. Mereka pakai mesin standar. Mesin buatan perusahaan lain. Tes darah dikirim ke laboratorium biasa.
Hasil tesnya seringkali kacau. Tidak akurat. Terkadang salah fatal. Pasien menerima diagnosis yang salah. Nyawa mereka bisa terancam. Ini mengerikan.
Pegawai internal tahu masalah ini. Mereka resah. Melaporkan ke manajemen. Tapi Holmes dan rekannya, Sunny Balwani, menolak. Mereka terus menyembunyikan kebenaran.
Mereka memalsukan data. Memanipulasi hasil. Demi menjaga citra Theranos. Demi menarik lebih banyak investor. Kebohongan terus diperbesar.
Kebohongan yang Terbongkar
Whistleblower dan Jurnalisme Investigasi
Namun, kebenaran punya jalannya sendiri. Ada satu nama. Tyler Shultz. Cucu dari George Shultz. Mantan Menlu AS. Dan salah satu direksi Theranos.
Tyler bekerja di Theranos. Dia melihat keanehan. Melihat kebohongan. Dia mencoba bersuara. Tapi ditahan. Diancam. Bahkan diawasi.
Ada juga Erika Cheung. Pegawai Theranos lainnya. Dia juga resah. Melihat kegagalan mesin Edison. Melihat praktik yang tidak etis. Dia juga bersuara.
Mereka berdua menjadi whistleblower. Membongkar praktik Theranos. Mengirim informasi. Kepada siapa? Kepada seorang jurnalis. John Carreyrou.
Carreyrou adalah jurnalis Wall Street Journal. Dia menerima laporan itu. Lalu memulai investigasi mendalam. Pekerjaan yang berani. Penuh risiko.
Awalnya Holmes menyangkal. Mengancam. Menggugat. Tapi Carreyrou tidak menyerah. Dia terus mencari bukti. Satu per satu fakta terungkap.
Pada Oktober 2015, Carreyrou menerbitkan artikel pertamanya. Sebuah bom waktu. Mengungkap kebohongan Theranos. Dunia terkejut.
Artikel itu mengguncang Silicon Valley. Mengejutkan dunia bisnis. Bagaimana mungkin sebuah perusahaan dengan valuasi miliaran dolar. Berbasis kebohongan semata?
Regulator mulai bergerak. FDA (Badan Pengawas Obat dan Makanan AS). SEC (Komisi Sekuritas dan Bursa). Pusat Medicare dan Medicaid Services. Semua mulai menyelidiki.
Konsekuensi Hukum dan Akhir Sebuah Era
Penemuan Carreyrou memicu badai. Theranos terpaksa. Menarik semua hasil tes darah yang sudah dikeluarkan. Menutup laboratoriumnya.
Izin operasionalnya dicabut. Mitra bisnisnya memutuskan hubungan. Investor menarik diri. Perusahaan yang dulu diagungkan. Sekarang di ambang kehancuran.
Elizabeth Holmes dicopot dari jabatannya sebagai CEO. Dia dan mantan kekasihnya, Sunny Balwani (COO Theranos), menghadapi dakwaan pidana. Penipuan besar.
Sidang berlangsung panjang. Penuh drama. Elizabeth Holmes mencoba membela diri. Mengklaim tidak tahu. Mengaku jadi korban Balwani.
Tapi jaksa penuntut punya bukti kuat. Email. Pesan. Kesaksian mantan karyawan. Semuanya menunjukkan Holmes tahu. Bahkan merencanakan kebohongan itu.
Pada Januari 2022, juri menyatakan Holmes bersalah. Atas empat dakwaan penipuan dan konspirasi. Balwani juga divonis bersalah pada Juli 2022.
Holmes dijatuhi hukuman 11 tahun penjara. Balwani 13 tahun. Mereka berdua harus membayar ganti rugi. Untuk para korban. Untuk investor yang tertipu.
Kisah Theranos menjadi peringatan. Bahwa inovasi harus dibangun. Di atas dasar integritas. Bukan kebohongan dan ilusi.
Dunia startup belajar mahal. Janji-janji revolusioner. Harus diiringi bukti nyata. Bukan hanya janji di atas kertas. Atau dari kata-kata manis.
Elizabeth Holmes, sang visioner muda. Kini harus mendekam di balik jeruji besi. Mimpinya hancur. Bersama reputasinya. Ini akhir dari sebuah era.
#PenipuanTheranos #ElizabethHolmes #TeknologiKesehatanPalsu
